Presiden Prabowo targetkan pembangunan infrastruktur nusantara untuk percepatan ekonomi 2026 dan keberlanjutan

presiden prabowo menargetkan pembangunan infrastruktur di nusantara untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi tahun 2026 dan mendukung keberlanjutan lingkungan.

En bref

  • Presiden Prabowo menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai pengungkit utama percepatan ekonomi dan pemerataan antarpulau, dengan Nusantara sebagai salah satu simpul strategi nasional.
  • Koordinasi lintas kementerian—dari agraria, pekerjaan umum, perhubungan, transmigrasi, hingga perumahan—diposisikan sebagai “mesin eksekusi” agar proyek tak berjalan sendiri-sendiri.
  • Agenda tata ruang didorong lewat one map policy dan penajaman rencana detail, untuk menekan konflik lahan, menjaga sawah produktif, sekaligus menyiapkan ruang permukiman.
  • Transportasi multimoda dan logistik antarpulau dipacu agar biaya distribusi turun dan daya saing daerah meningkat, termasuk pelajaran dari kebijakan penurunan harga tiket.
  • Isu perumahan (backlog jutaan keluarga dan rumah tak layak) ditautkan dengan penyediaan lahan yang lebih kreatif serta skema pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
  • Keberlanjutan menjadi syarat proyek: adaptif bencana, mengatasi banjir dan penurunan tanah, serta membuka ruang investasi dalam dan luar negeri.

Ketika pemerintah targetkan lompatan pertumbuhan, infrastruktur kembali diletakkan sebagai “bahasa bersama” yang mempertemukan agenda pangan, energi, industri, layanan publik, hingga digitalisasi. Dalam lanskap kebijakan nasional terbaru, Presiden Prabowo menegaskan bahwa jalan, pelabuhan, bendungan, perumahan, dan tata ruang bukan sekadar daftar proyek, melainkan rangkaian keputusan yang menentukan cepat atau lambatnya perputaran uang di daerah. Nusantara dipahami bukan hanya sebagai simbol pemindahan pusat administrasi, tetapi sebagai pemicu tata kelola baru—dari perencanaan ruang yang lebih disiplin sampai pembiayaan yang lebih kreatif. Di saat yang sama, publik menuntut hasil yang terasa: harga logistik turun, akses kerja terbuka, rumah layak terjangkau, dan risiko bencana ditangani lebih serius.

Garis kebijakan itu menguji hal yang sering luput: kemampuan negara mengorkestrasi banyak aktor sekaligus. Kementerian dan pemerintah daerah harus selaras, badan usaha dilibatkan, dan masyarakat perlu melihat keterkaitan manfaatnya dengan dapur mereka sehari-hari. Seorang pelaku UMKM fiktif bernama Rani di Kupang, misalnya, tidak menunggu istilah teknokratis; ia menunggu kapal kontainer lebih pasti jadwalnya, ongkos kirim lebih masuk akal, serta akses pasar digital tidak putus-putus. Dari sudut pandang semacam itulah narasi besar pembangunan infrastruktur diuji: apakah mampu mendorong percepatan ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan.

Pemerintah Prabowo Targetkan Pembangunan Infrastruktur Nusantara untuk Percepatan Ekonomi dan Dampak Nyata

Dalam arsitektur kebijakan lima tahunan, pemerintah menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prasyarat agar target pertumbuhan tinggi lebih realistis. Bukan hanya karena proyek besar menyerap tenaga kerja, melainkan karena efek lanjutannya: arus barang lebih cepat, biaya transport turun, dan akses layanan publik lebih merata. Di bawah arahan Presiden Prabowo, penekanan utamanya adalah proyek yang “berdampak”, bukan sekadar “banyak”. Artinya, keberhasilan diukur dari perubahan yang bisa dirasakan rumah tangga dan dunia usaha—mulai dari harga pangan yang stabil hingga peluang kerja di luar pusat-pusat ekonomi lama.

Contoh yang mudah dibayangkan datang dari rantai pasok bahan pokok. Ketika bendungan dan jaringan irigasi berfungsi baik, petani dapat menanam lebih dari sekali dalam setahun, risiko gagal panen menurun, dan pasokan lebih stabil. Stabilitas itu kemudian menekan volatilitas harga, yang pada akhirnya menjaga daya beli. Di sisi lain, jalur distribusi yang lancar—jalan penghubung, pelabuhan, dan integrasi moda—membuat hasil pertanian dari satu wilayah dapat lebih cepat sampai ke wilayah defisit pasokan. Apakah ini urusan “teknis”? Tidak sepenuhnya; ini menyangkut biaya hidup dan ketahanan ekonomi keluarga.

Dalam konteks Nusantara, yang dibaca pemerintah bukan hanya pembangunan kota, melainkan penataan pusat pertumbuhan baru dan konektivitas kawasan. Bila simpul logistik, hunian pekerja, serta layanan dasar disiapkan konsisten, maka aktivitas ekonomi tidak terkonsentrasi di satu pulau saja. Rani—pelaku UMKM tadi—akan merasakan bedanya ketika waktu pengiriman makin pasti dan biaya gudang menurun, sehingga ia berani menambah volume produksi. Pada titik itu, percepatan ekonomi bergerak dari jargon menjadi keputusan bisnis harian.

Namun, ada prasyarat: disiplin perencanaan dan pemilihan proyek. Pemerintah mengisyaratkan bahwa setiap proyek perlu memiliki “rantai manfaat” yang jelas: siapa penerima manfaat pertama, manfaat lanjutan apa yang muncul, serta indikator yang bisa dievaluasi. Di sinilah pentingnya menautkan proyek fisik dengan agenda lain seperti swasembada pangan, ketahanan energi, hilirisasi, dan digitalisasi. Infrastruktur jalan tanpa koneksi ke pusat produksi dan pasar, misalnya, cenderung menjadi monumen; sebaliknya, jalan yang dirancang bersama rencana kawasan industri, sentra pertanian, dan akses pelabuhan akan menggerakkan ekonomi daerah secara lebih nyata.

Agar agenda besar ini tidak lepas dari realitas global, pembahasan risiko perlambatan ekonomi dunia juga relevan. Dinamika tersebut memengaruhi investasi, ekspor, dan biaya pembiayaan proyek. Karena itu, membaca konteks global menjadi bagian dari perencanaan domestik, seperti yang sering disorot dalam diskusi tentang risiko perlambatan ekonomi global. Dengan begitu, strategi targetkan infrastruktur dapat tetap adaptif terhadap ketidakpastian, bukan berjalan dengan asumsi yang terlalu optimistis.

Ukuran keberhasilan akhirnya kembali pada satu pertanyaan: apakah proyek-proyek itu menciptakan produktivitas baru atau hanya memindahkan aktivitas lama? Insight kuncinya: pembangunan yang efektif selalu meninggalkan “kapasitas” baru—kapasitas produksi, kapasitas mobilitas, dan kapasitas layanan—bukan sekadar bangunan baru.

presiden prabowo menargetkan pembangunan infrastruktur nusantara guna mempercepat pertumbuhan ekonomi pada 2026 sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Koordinasi Lintas Kementerian: Mesin Eksekusi Infrastruktur di Era Presiden Prabowo

Jika proyek infrastruktur diibaratkan rangka tubuh, maka koordinasi lintas kementerian adalah sistem sarafnya. Pemerintah mendorong orkestrasi yang rapat agar keputusan agraria, desain teknik, pembiayaan, dan pengoperasian tidak saling bertabrakan. Praktiknya terlihat dari pola rapat koordinasi tertutup yang melibatkan kementerian-kementerian kunci: urusan pertanahan dan tata ruang, pekerjaan umum, perhubungan, transmigrasi, hingga perumahan dan kawasan permukiman. Tujuannya bukan sekadar “sinkron”, melainkan menyatukan jadwal, target output, serta pembagian peran yang tegas.

Ambil contoh pembangunan bendungan yang berfungsi sebagai irigasi. Kementerian teknis dapat menyelesaikan konstruksi utama, tetapi manfaatnya akan maksimal jika jaringan irigasi tersier tersambung, lahan sawah terlindungi dari alih fungsi liar, dan akses jalan produksi memadai. Tanpa itu, bendungan bisa selesai secara fisik namun dampak ke pertanian tertahan. Karena itu, koordinasi dibutuhkan sejak tahap perencanaan: tata ruang menetapkan perlindungan lahan, pekerjaan umum memastikan spesifikasi, perhubungan menautkan akses, dan pemerintah daerah menyiapkan dukungan sosial serta izin-izin lokal.

Dalam kerangka RPJMN 2025–2029, pendekatan ini membantu kementerian menerjemahkan visi-misi nasional menjadi program yang operasional. Salah satu tantangan klasik adalah “peta berbeda-beda” antarinstansi yang memicu konflik lahan dan keterlambatan. Pemerintah menekankan integrasi data melalui kebijakan satu peta dan penajaman satu rencana tata ruang. Bagi publik, hal ini mungkin terdengar administratif, namun dampaknya konkret: proses pembebasan lahan lebih jelas, investor tidak ragu, dan masyarakat punya kepastian hak.

Untuk menggambarkan bagaimana koordinasi memengaruhi kehidupan sehari-hari, bayangkan proyek rumah susun sederhana di kota besar. Tanpa sinkronisasi, lahan belum bersih, utilitas belum tersedia, akses transport belum memadai, dan akhirnya hunian kosong atau tidak diminati. Dengan koordinasi yang kuat, penyiapan lahan, jaringan air-listrik, akses angkutan, serta skema pembiayaan bisa berjalan serempak. Hasilnya bukan hanya bangunan berdiri, tetapi hunian benar-benar ditempati dan mengurangi kawasan kumuh—misalnya relokasi warga dari kolong jembatan ke unit yang layak.

Koordinasi juga menyentuh dimensi anggaran. Saat ruang fiskal terbatas, kementerian harus membuat prioritas bersama: proyek mana yang mendesak, mana yang bisa ditunda, dan mana yang perlu didorong lewat kemitraan. Prinsipnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri; badan usaha dilibatkan agar pendanaan lebih kredibel dan eksekusi lebih efisien. Ini selaras dengan penekanan Presiden Prabowo agar peran swasta dan mitra asing diperbesar, terutama untuk menghadirkan teknologi dan manajemen modern.

Di tingkat daerah, integrasi dengan kepala daerah menjadi pembeda. Banyak proyek gagal bukan karena desainnya buruk, melainkan karena dukungan lokal lemah atau komunikasi publik minim. Ketika pemerintah daerah dilibatkan sejak awal—termasuk dalam penentuan trase, kompensasi sosial, dan pemanfaatan ekonomi—risiko resistensi turun dan proyek lebih “diterima”. Insight kuncinya: koordinasi yang baik mengubah proyek dari “milik pusat” menjadi “milik bersama”, sehingga manfaatnya lebih cepat terasa.

Untuk melihat diskusi praktis soal infrastruktur dan strategi pembiayaan, isu ini sering dibahas dalam forum dan liputan kebijakan yang dapat ditelusuri lewat tayangan berikut.

Tata Ruang, One Map Policy, dan Kepastian Lahan: Fondasi Infrastruktur Nusantara yang Berkelanjutan

Tata ruang adalah arena yang sering senyap, tetapi menentukan nasib proyek sejak hari pertama. Pemerintah mendorong penertiban rencana ruang melalui integrasi peta dan rencana detail agar pembangunan tidak menghasilkan konflik berkepanjangan. Di lapangan, konflik paling umum muncul dari tumpang tindih status tanah: batas kawasan hutan yang tidak tegas, klaim adat yang belum terdokumentasi baik, dan rencana trase yang berubah-ubah. Dengan one map policy dan penguatan sistem informasi pertanahan, pemerintah ingin memperkecil ruang abu-abu yang selama ini memperlambat pembangunan infrastruktur.

Penajaman rencana detail tata ruang (RDTR) menjadi kunci karena RDTR adalah “manual” yang dibaca investor, warga, dan pemerintah daerah. Ketika RDTR jelas, maka zonasi industri, permukiman, ruang hijau, dan lahan pangan dapat dikelola lebih disiplin. Pemerintah juga menempatkan pemetaan kadastral sebagai prioritas: pemetaan batas tanah, batas dengan kawasan hutan, batas transmigrasi, serta pendataan tanah adat/ulayat. Arah ini penting agar pembangunan tidak memicu sengketa sosial yang mahal dan menyita waktu.

Di sisi lain, tata ruang bukan berarti mengunci semua lahan sebagai “tidak boleh diganggu”. Pemerintah menghadapi dua kebutuhan yang sama-sama mendesak: melindungi lahan sawah produktif agar ketahanan pangan terjaga, sekaligus menyiapkan ruang untuk perumahan dan kawasan permukiman seiring pertumbuhan penduduk dan migrasi. Inilah kompromi kebijakan yang menuntut data presisi. Jika perlindungan lahan pertanian dilakukan tanpa menyiapkan ruang hunian, backlog perumahan membengkak; jika ekspansi permukiman dibiarkan tanpa kendali, sawah menyusut dan ketahanan pangan rapuh.

Dalam praktik, kebijakan ini dapat diilustrasikan lewat satu studi kasus hipotetis: sebuah kabupaten penyangga di Kalimantan yang melihat peluang ekonomi dari koridor logistik menuju Nusantara. Pemerintah daerah ingin membuka kawasan industri kecil untuk pengolahan hasil hutan non-kayu dan produk pangan lokal. Dengan RDTR yang baik, kawasan industri ditempatkan pada lahan yang tidak mengganggu sawah dan tidak berada di zona rawan banjir. Lalu, jaringan jalan pengumpan dan akses ke pelabuhan sungai dirancang agar truk tidak melewati permukiman padat. Hasilnya: konflik sosial menurun, pengusaha lokal berani masuk, dan pendapatan daerah naik tanpa merusak fungsi ekologis.

Isu keberlanjutan juga menuntut tata ruang membaca risiko bencana. Penempatan permukiman baru, misalnya, harus mempertimbangkan banjir, longsor, serta penurunan muka tanah. Berita pemulihan bencana dan pelajaran kebijakan dari wilayah lain dapat menjadi cermin, seperti pembahasan tentang pemulihan pascabanjir di Sumatra yang menekankan pentingnya pemetaan risiko dan pemulihan yang tidak mengulang kerentanan lama. Pertanyaannya: apakah kita membangun kembali dengan desain yang sama, atau memperbaiki akar masalahnya?

Di balik semua itu, tata ruang yang tegas adalah bentuk perlindungan bagi semua pihak: warga mendapat kepastian, investor mendapat prediktabilitas, dan negara mengurangi kebocoran biaya akibat konflik. Insight kuncinya: peta yang rapi bukan sekadar dokumen—ia adalah “kontrak sosial” yang membuat pembangunan berjalan lebih cepat dan adil.

Perumahan, Backlog, dan Infrastruktur Sosial: Menyatukan Agenda Permukiman dengan Percepatan Ekonomi

Ketika membahas pembangunan infrastruktur, publik kerap membayangkan jalan tol atau pelabuhan. Padahal, perumahan adalah infrastruktur sosial yang dampaknya sangat langsung pada produktivitas. Pemerintah mengidentifikasi tantangan besar: jutaan keluarga belum memiliki rumah, dan puluhan juta warga masih tinggal di hunian yang masuk kategori tidak layak. Dampaknya berlapis—kesehatan memburuk, biaya hidup naik, anak sulit belajar, dan mobilitas kerja terganggu. Karena itu, agenda permukiman ditempatkan sebagai bagian dari strategi percepatan ekonomi, bukan sekadar program bantuan.

Arah kebijakan yang menonjol adalah menggabungkan penyediaan lahan dengan skema pembiayaan yang lebih inklusif. Pemerintah mendorong pemanfaatan sumber lahan yang selama ini tidak optimal, seperti lahan sitaan hasil tindak pidana korupsi, lahan dengan hak guna usaha yang tidak diperpanjang, serta aset BUMN. Di atas kertas, kebijakan ini punya nilai ganda: menambah pasokan tanah untuk perumahan rakyat dan memperbaiki tata kelola aset negara. Sasaran masyarakat berpenghasilan rendah didefinisikan secara jelas, termasuk kelompok berpendapatan di bawah ambang tertentu, serta membuka peluang bagi pekerja sektor informal selama memiliki arus penghasilan yang bisa diverifikasi.

Dalam kehidupan nyata, manfaatnya bisa terlihat pada keluarga muda yang bekerja di sektor jasa. Mereka mungkin tidak punya slip gaji formal, namun punya pemasukan rutin dari usaha kecil. Jika skema pembiayaan bisa menilai kelayakan dari rekam transaksi dan perilaku bayar (misalnya melalui data perbankan atau platform pembayaran), maka akses KPR menjadi lebih realistis. Pada gilirannya, perumahan yang layak dekat pusat kerja atau terhubung transportasi publik mengurangi biaya commuting dan meningkatkan waktu produktif.

Relokasi dari hunian ekstrem—misalnya warga yang tinggal di ruang-ruang tidak semestinya—membutuhkan lebih dari sekadar bangunan. Diperlukan jaringan air bersih, sanitasi, akses sekolah, fasilitas kesehatan, dan konektivitas angkutan. Bila tidak, rumah susun bisa berubah menjadi kantong masalah baru. Pemerintah daerah memegang peran krusial di sini: mereka yang mengelola layanan dasar dan memastikan integrasi dengan rencana kota. Ini salah satu alasan koordinasi lintas sektor menjadi penting, karena perumahan bersinggungan dengan tata ruang, transportasi, bahkan ketenagakerjaan.

Untuk memperjelas keterkaitan kebijakan permukiman dan dampak ekonomi, berikut tabel ringkas yang memetakan masalah utama dan konsekuensi kebijakannya.

Isu permukiman
Dampak ekonomi harian
Arah respons kebijakan
Indikator hasil yang bisa diukur
Backlog kepemilikan rumah
Biaya sewa tinggi, tabungan sulit terbentuk
Penyediaan lahan alternatif dan pembiayaan MBR
Jumlah unit terbangun dan serapan KPR
Rumah tidak layak huni
Biaya kesehatan naik, produktivitas turun
Rehabilitasi berbasis standar layak, utilitas dasar
Penurunan kasus penyakit berbasis lingkungan
Permukiman di lokasi ekstrem (kolong jembatan/bantaran)
Kerentanan bencana, kerugian aset berulang
Relokasi ke hunian vertikal terjangkau dan aman
Penurunan jumlah warga di zona rawan
Jarak rumah-ke-kerja jauh
Ongkos transport tinggi, waktu habis di jalan
Integrasi perumahan dengan transportasi publik
Waktu tempuh rata-rata dan biaya commuting

Dalam narasi besar pemerintah, perumahan juga terkait dengan pembangunan manusia, termasuk kesehatan dan program gizi. Hunian yang layak membuat intervensi kesehatan lebih efektif: sanitasi lebih baik, air bersih tersedia, dan layanan posyandu atau puskesmas lebih mudah menjangkau warga. Pada akhirnya, rumah bukan hanya atap; ia adalah landasan agar keluarga bisa mengambil peluang ekonomi baru. Insight kuncinya: agenda perumahan yang tepat sasaran akan mempercepat ekonomi lewat cara yang paling sunyi—menurunkan “biaya hidup tak terlihat” yang selama ini ditanggung rakyat.

Perdebatan publik soal hunian vertikal, pembiayaan MBR, dan integrasi transportasi sering muncul dalam diskusi perkotaan. Tayangan berikut dapat membantu melihat ragam perspektifnya.

Transportasi Multimoda, Logistik Antarpulau, dan Pembiayaan: Menjaga Keberlanjutan Infrastruktur hingga 2026

Transportasi adalah “peredaran darah” ekonomi, tetapi di negara kepulauan tantangannya berbeda: konektivitas tidak cukup hanya di satu pulau. Pemerintah mendorong pengembangan transportasi multimoda—udara, darat, laut, dan kereta—agar mobilitas orang serta logistik lebih efisien. Dampaknya bukan sekadar kenyamanan, melainkan struktur biaya nasional. Jika biaya angkut turun, harga barang di wilayah timur lebih kompetitif, dan pelaku usaha lokal dapat bersaing tanpa harus “membayar mahal” karena geografi.

Salah satu pelajaran kebijakan yang relevan datang dari evaluasi periode libur besar, ketika pemerintah menurunkan harga tiket pesawat sekitar 10 persen untuk menjaga mobilitas masyarakat. Kebijakan semacam ini menunjukkan dua hal: pertama, transportasi memengaruhi konsumsi dan pariwisata domestik secara cepat; kedua, intervensi harga perlu ditopang oleh perbaikan struktural agar tidak sekadar sementara. Perbaikan struktural yang dimaksud misalnya penguatan bandara pengumpan, kepastian slot penerbangan, peremajaan armada, hingga efisiensi rantai pasok avtur. Bila struktur membaik, harga lebih stabil tanpa subsidi berlebihan.

Di ranah logistik, tantangan yang sering disebut adalah ketimpangan kapasitas: rute tertentu padat, rute lain minim muatan balik sehingga tarif tinggi. Pemerintah menekankan perlunya perencanaan yang ketat berbasis supply-demand: berapa kapasitas pelabuhan, apa kekurangannya, kapan butuh peremajaan, dan kapan pengadaan baru masuk akal. Ini terdengar teknis, tetapi keputusan itu menentukan apakah sebuah daerah bisa mengirim hasil lautnya ke pasar besar dengan cepat, atau justru kalah karena biaya kontainer terlalu mahal.

Transmigrasi juga kembali dibaca sebagai strategi distribusi kesejahteraan, bukan sekadar memindahkan penduduk. Jika kawasan transmigrasi disiapkan dengan jalan akses, irigasi, sekolah, puskesmas, dan pasar, maka ia menjadi ekosistem ekonomi baru. Namun bila infrastrukturnya minim, risiko “memindahkan masalah” akan muncul. Karena itu, konektivitas dan layanan dasar menjadi syarat keberhasilan, termasuk penyiapan batas lahan yang jelas agar tidak memicu konflik dengan kawasan hutan atau tanah adat.

Aspek keberlanjutan semakin keras tuntutannya saat risiko bencana meningkat. Pembangunan tanggul raksasa di pesisir utara Jakarta sering disebut sebagai contoh proyek besar yang harus diiringi langkah pendukung: normalisasi sungai, pengelolaan air tanah agar penurunan muka tanah melambat, serta tata ruang yang menahan beban pembangunan pada zona rentan. Prinsipnya, infrastruktur adaptif bencana bukan biaya tambahan; ia adalah penghematan kerugian masa depan.

Untuk menutup celah pendanaan, pemerintah menegaskan kebutuhan investasi dari dalam dan luar negeri. Di sini, dinamika geopolitik dan kebijakan negara besar turut berpengaruh pada arus modal dan biaya pinjaman. Pembaca yang ingin melihat gambaran kebijakan global yang memengaruhi sentimen investasi dapat merujuk pada ulasan kebijakan Amerika Serikat pada 2026 sebagai salah satu konteks eksternal yang kerap menjadi pertimbangan investor. Di sisi lain, peluang juga muncul dari tren diversifikasi ekonomi di berbagai kawasan yang mencari proyek infrastruktur dan energi hijau.

Berikut daftar prioritas praktis yang sering muncul dalam pembahasan transportasi, logistik, dan pembiayaan agar agenda targetkan infrastruktur tetap konsisten dan terukur:

  • Memperbaiki kepastian jadwal (kapal, kereta, dan penerbangan) karena kepastian sering lebih penting daripada kecepatan ekstrem bagi dunia usaha.
  • Menguatkan simpul multimoda (pelabuhan-bandar udara-terminal barang) agar perpindahan muatan tidak mahal dan tidak lambat.
  • Menurunkan biaya logistik wilayah timur melalui rute yang lebih seimbang dan peningkatan muatan balik.
  • Mengunci standar ketahanan bencana pada desain proyek, terutama drainase, perlindungan pesisir, dan stabilitas tanah.
  • Membuka ruang KPBU dan investasi dengan tata kelola risiko yang jelas, sehingga pendanaan tidak membebani APBN sendiri.

Ketika daftar prioritas ini dijalankan, narasi besar Presiden Prabowo tentang pembangunan infrastruktur yang mendorong percepatan ekonomi dan keberlanjutan menjadi lebih dari sekadar target; ia menjadi rangka kerja yang bisa diuji, diperbaiki, dan dirasakan manfaatnya dari satu pulau ke pulau lain—termasuk di sekitar Nusantara sebagai simpul masa depan. Insight kuncinya: konektivitas yang adil adalah kebijakan sosial dalam bentuk beton, baja, dan data.

presiden prabowo menargetkan pembangunan infrastruktur nusantara sebagai upaya percepatan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 dan mendukung keberlanjutan nasional.
Berita terbaru