Gelombang Ketegangan terbaru di Timur Tengah mencapai titik yang jarang terlihat sejak krisis-krisis besar dekade sebelumnya: AS dan Iran saling mengunci langkah di jalur laut paling vital dunia. Ketika Trump meresmikan kebijakan Blokade yang diklaim “berlaku adil” bagi kapal dari berbagai negara, sorotan dunia langsung tertuju pada Selat Hormuz—koridor sempit yang menentukan ritme energi, logistik, dan harga barang dari Jakarta sampai Johannesburg. Di atas kertas, narasinya adalah penegakan Keamanan maritim dan pembatasan akses menuju pelabuhan Iran; di lapangan, keputusan ini membuat perusahaan pelayaran menghitung ulang rute, perusahaan asuransi menaikkan premi, dan pedagang komoditas menyesuaikan kontrak.
Di tengah dinamika itu, “siapa yang boleh lewat dan siapa yang tidak” menjadi pertanyaan praktis sekaligus politis. Kapal yang hanya melintas antar pelabuhan non-Iran disebut tetap diizinkan, namun setiap pengecualian selalu melahirkan ruang tafsir. Apalagi, kegagalan kanal Diplomasi—termasuk dialog langsung yang sempat dibicarakan sebagai yang pertama dalam lebih dari satu dekade—menciptakan suasana psikologis pasar yang rapuh. Para analis menyebut ini bukan sekadar sengketa taktis, melainkan Konflik soal pengaruh regional yang memantul ke mana-mana: dari stabilitas harga minyak hingga legitimasi kebijakan luar negeri masing-masing pihak.
AS Resmikan Blokade Strategis di Selat Hormuz: Definisi Operasi, Batasan, dan Pesan Politik Trump
Kebijakan Blokade yang diumumkan Trump dipahami sebagai operasi maritim dengan target utama: membatasi kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Formulasi resminya menekankan bahwa penegakan akan diterapkan terhadap kapal berbagai bendera, sehingga tidak tampak sebagai tindakan yang hanya menyasar negara tertentu berdasarkan asal kapal. Namun, dalam praktik pengawasan laut, parameter yang lebih menentukan adalah “tujuan akhir” dan “asal muatan”—dua hal yang sering kali kompleks karena kapal kontainer dapat memiliki dokumen multi-leg, pergantian agen, serta transshipment di pelabuhan antara.
Di sini, frasa “tetap mengizinkan kapal yang berlayar antar pelabuhan non-Iran” menjadi kunci. Jalur Selat Hormuz bukan hanya pintu menuju Iran, melainkan pintu menuju banyak negara Teluk. Maka, AS berupaya mengirim pesan ganda: menekan Iran tanpa mematikan sepenuhnya perdagangan negara lain. Apakah itu realistis? Para pelaku industri maritim sering menyebut “risiko reputasi” dan “risiko salah paham” lebih mahal daripada larangan tertulis. Ketika ketidakpastian tinggi, perusahaan pelayaran cenderung menghindari area yang dianggap panas, meski secara hukum mereka berhak melintas.
Bayangkan kasus hipotetis “Nusantara Lines”, perusahaan pelayaran yang rutin mengirim bahan kimia industri dari Asia ke Teluk. Mereka tidak pernah berlabuh di Iran, tetapi beberapa pelanggan di kawasan memiliki afiliasi pemasok yang pernah bertransaksi dengan entitas Iran. Dalam situasi ini, tim kepatuhan (compliance) akan memeriksa ulang daftar sanksi, kontrak charter, dan asal muatan. Satu kesalahan administratif bisa berujung inspeksi panjang atau penahanan sementara. Ujungnya, jadwal kapal terganggu, denda demurrage membengkak, dan klien menuntut kompensasi.
Ruang lingkup penutupan pelabuhan dan dua jalur laut strategis
Pernyataan kebijakan menyebut cakupan pelabuhan Iran di dua jalur laut penting: kawasan yang terhubung dengan Teluk Arab dan Teluk Oman. Ini bukan sekadar garis di peta, melainkan jaringan pelabuhan, terminal minyak, serta titik bongkar muat petrokimia. Dengan membatasi akses maritim ke pelabuhan-pelabuhan itu, AS memukul titik yang sangat sensitif: kemampuan Iran mengekspor komoditas dan mengimpor barang strategis.
Di sisi lain, operator kapal tanker mengenal bahwa pengetatan di satu titik akan memindahkan kemacetan ke titik lain. Jika kapal-kapal menghindari pelabuhan tertentu, antrean dapat menumpuk di anchorage netral atau di pelabuhan tetangga, menciptakan “bottleneck” baru. Efek domino semacam ini sering terlihat pada krisis pelayaran global; bedanya, kali ini pemicunya adalah kebijakan Keamanan dan Konflik terbuka, bukan semata gangguan teknis.
Ultimatum dan retorika kekuatan: dampak terhadap kalkulasi risiko
Retorika yang keras—termasuk ultimatum waktu singkat agar jalur dibuka dan ancaman serangan terhadap infrastruktur—mengubah kalkulasi risiko. Bagi pasar, retorika semacam itu bukan sekadar “kata-kata”; ia menjadi sinyal kemungkinan eskalasi. Perusahaan asuransi maritim akan menilai ulang “war risk premium”, sementara bank yang membiayai kargo menambahkan klausul tambahan. Bahkan eksportir kecil pun terdampak karena biaya logistik naik dan jadwal menjadi tidak pasti.
Di level publik, tindakan Trump dibaca sebagai demonstrasi kontrol: menunjukkan bahwa AS mampu mengatur akses di choke point global. Namun bagi negara-negara di kawasan, pesan itu bisa ditafsirkan sebagai peringatan bahwa jalur perdagangan mereka ikut berada dalam tarikan kekuatan besar. Insight akhirnya: kebijakan maritim yang dimaksudkan “terbatas” sering kali menciptakan efek psikologis yang jauh lebih luas daripada batas operasinya sendiri.

Dampak Blokade AS-Iran terhadap Pasar Energi, Logistik, dan Harga: Dari Minyak hingga Barang Konsumen
Selat Hormuz sering disebut sebagai “keran” energi dunia karena porsi besar pengapalan minyak dan produk turunannya melewati koridor ini. Ketika Ketegangan memuncak dan Blokade menjadi kebijakan resmi, pasar energi bereaksi melalui dua jalur: kenaikan harga spot (karena ketakutan pasokan terganggu) dan penyesuaian kontrak jangka menengah (karena pelaku usaha menuntut premi risiko). Bahkan bila aliran minyak tidak langsung berhenti, persepsi risiko sudah cukup untuk menggerakkan harga.
Contoh konkret terlihat pada pengadaan bahan bakar industri untuk pabrik-pabrik di Asia. Seorang manajer pembelian bisa saja memiliki kontrak harga tetap, tetapi biaya pengiriman dan asuransi berada di luar kontrak itu. Begitu premi asuransi naik, biaya total ikut naik. Pada akhirnya, harga barang jadi—mulai dari plastik kemasan hingga komponen otomotif—berpotensi terdorong naik. Ini bukan alarm teoritis: rantai pasok modern sangat sensitif pada keterlambatan 3–7 hari saja.
Biaya asuransi, perubahan rute, dan “biaya sunyi” yang jarang dibahas
Ketika area berisiko tinggi, perusahaan pelayaran mempertimbangkan rute alternatif atau menambah pengawalan. Dua opsi ini sama-sama mahal. Perubahan rute berarti konsumsi bahan bakar bertambah dan jadwal meleset. Pengawalan berarti ada biaya tambahan dan prosedur koordinasi yang tidak sederhana. “Biaya sunyi” yang jarang dibahas adalah biaya administrasi kepatuhan: verifikasi dokumen, audit pelanggan, pengecekan entitas yang berpotensi terkena pembatasan, hingga pelatihan kru untuk skenario inspeksi.
Untuk memetakan dampak secara praktis, tabel berikut menunjukkan jenis efek yang biasa muncul pada krisis maritim semacam ini.
Area Dampak |
Perubahan yang Umum Terjadi |
Contoh di Lapangan |
Konsekuensi bagi Konsumen |
|---|---|---|---|
Energi |
Harga spot dan premi risiko naik |
Trader menambah margin pada kontrak pengiriman |
Biaya transportasi dan produksi meningkat |
Pelayaran |
Asuransi risiko perang lebih mahal |
Premi tambahan untuk rute dekat Selat Hormuz |
Harga barang impor terdorong naik |
Rantai pasok |
Lead time lebih panjang, jadwal tidak pasti |
Keterlambatan komponen pabrik karena kapal tertahan inspeksi |
Kelangkaan sementara dan inflasi musiman |
Keuangan |
Bank memperketat pembiayaan perdagangan |
Klausul tambahan pada letter of credit |
UMKM eksportir sulit bersaing |
Studi kasus mini: importir Indonesia dan kontrak yang harus dinegosiasi ulang
Misalkan “PT Sumber Kemasan”, importir resin plastik untuk industri makanan. Resin dikirim lewat jalur Teluk menuju Asia. Saat AS memperketat akses terkait Iran, perusahaan pelayaran meminta “surcharge” risiko. PT Sumber Kemasan menghadapi dilema: menyerap biaya dan menekan margin, atau menaikkan harga jual ke pabrik makanan. Kedua pilihan punya dampak sosial—harga pangan olahan bisa ikut terdorong.
Di saat yang sama, pemasok meminta fleksibilitas jadwal karena kapal mungkin harus menunggu clearance tambahan. Ini menuntut negosiasi ulang klausul “delivery window” dan penalti keterlambatan. Insight akhirnya: Ketegangan geopolitik di satu selat dapat merembes menjadi negosiasi kontrak yang sangat mikro di pabrik dan gudang ribuan kilometer jauhnya.
Untuk melihat bagaimana dinamika ini dibahas di ruang publik, perhatikan beragam liputan dan analisis terkait regional, misalnya pada tautan perkembangan ketegangan Timur Tengah yang melibatkan Iran yang sering mengulas implikasi lintas negara dan respons berbagai aktor.
Keamanan Maritim dan Aturan Main di Selat Hormuz: Inspeksi Kapal, Risiko Salah Identifikasi, dan Eskalasi Konflik
Operasi Keamanan maritim di chokepoint seperti Selat Hormuz bukan pekerjaan sederhana. Ada lalu lintas tanker, kapal kontainer, kapal kargo curah, hingga kapal kecil lokal. Ketika Blokade ditegakkan dengan semangat “berlaku bagi semua bendera” namun berorientasi pada pelabuhan Iran, titik rawannya adalah proses identifikasi: bagaimana menentukan kapal mana yang “bertujuan Iran”, bagaimana memverifikasi manifest kargo, dan bagaimana menilai apakah ada pelanggaran yang disengaja atau hanya kesalahan administrasi.
Dalam situasi Ketegangan tinggi, kesalahan kecil dapat membesar. Salah membaca sinyal AIS, salah menafsirkan rute, atau miskomunikasi radio bisa memicu manuver agresif. Di lautan sempit, manuver semacam itu meningkatkan peluang tabrakan atau insiden peringatan tembakan. Itulah mengapa banyak pihak menekankan de-eskalasi prosedural: aturan komunikasi yang jelas, zona aman, dan jalur koordinasi cepat.
Prosedur inspeksi dan dampaknya pada kru serta operator
Inspeksi tidak hanya soal memeriksa dokumen; ia juga menyangkut psikologi kru. Kapten kapal harus memastikan awaknya memahami protokol, mulai dari menyiapkan dokumen sampai menata area pemeriksaan. Operator kapal, di sisi lain, harus menyiapkan “paket kepatuhan” yang bisa diserahkan cepat. Keterlambatan 12 jam saja bisa mengubah jadwal bongkar muat di pelabuhan berikutnya dan memicu antrean.
Contoh: sebuah tanker yang mengangkut produk olahan minyak dengan pembeli di negara Teluk non-Iran. Jika ada keraguan pada dokumen perantara, kapal bisa diminta menunggu di area tertentu. Dalam masa tunggu, konsumsi bahan bakar tetap berjalan, biaya sewa kapal tetap dihitung, dan tekanan pada kru meningkat. Pada titik ini, Konflik berubah wujud dari pertarungan narasi menjadi beban operasional harian.
Daftar risiko utama yang dihadapi pelayaran internasional
Dalam kondisi Strategis seperti ini, perusahaan pelayaran dan pemilik kargo biasanya menyiapkan matriks risiko. Berikut daftar risiko yang sering muncul, beserta penjelasan singkat yang relevan untuk konteks AS–Iran:
- Risiko salah identifikasi rute: kapal yang tidak terkait Iran tetap diperiksa karena pola pelayaran mirip atau dokumen transshipment yang rumit.
- Risiko penahanan sementara: inspeksi panjang memicu biaya demurrage dan keterlambatan berantai di pelabuhan lain.
- Risiko eskalasi komunikasi: miskomunikasi radio atau perintah manuver yang ambigu memperbesar peluang insiden.
- Risiko keamanan siber: sistem navigasi dan komunikasi dapat menjadi target, sehingga verifikasi data menjadi lebih sulit.
- Risiko hukum dan kepatuhan: bank dan asuransi meminta dokumentasi tambahan untuk memastikan transaksi tidak melanggar pembatasan.
Daftar tersebut menegaskan bahwa isu Keamanan bukan hanya militeristik; ia menyentuh teknologi, hukum, dan budaya kerja di kapal. Insight akhirnya: semakin padat dan sempit suatu selat, semakin besar nilai disiplin prosedural untuk mencegah salah satu percikan kecil berubah menjadi krisis besar.
Di luar kawasan, pembaca kerap membandingkan pola eskalasi dengan konflik lain yang juga dipicu teknologi dan serangan jarak jauh; salah satu contoh analisis perbandingan dapat dibaca pada laporan ketegangan Ukraina terkait serangan drone yang menunjukkan bagaimana dinamika modern mempercepat risiko salah perhitungan.
Diplomasi yang Buntu dan Jalur Negosiasi: Mengapa Dialog AS-Iran Sulit Menemukan Titik Temu
Ketika kebijakan Blokade diumumkan, banyak pihak bertanya: mengapa kanal Diplomasi tidak mampu menahan laju eskalasi? Jawabannya tidak tunggal. Ada faktor domestik di kedua pihak, ada pertimbangan reputasi pemimpin, dan ada dinamika regional yang membuat kompromi tampak seperti kelemahan. Dalam konteks Trump, kebijakan keras sering dibingkai sebagai cara “memulihkan deterrence”. Bagi Iran, respons yang terlalu lunak berisiko memicu tekanan internal dan mengurangi daya tawar di kawasan.
Dialog langsung yang sempat digadang-gadang sebagai pertemuan penting setelah jeda panjang lebih dari satu dekade, pada akhirnya menghadapi problem klasik: agenda yang terlalu besar dan saling curiga. Jika satu pihak memulai dari tuntutan maksimal (misalnya pembukaan jalur tanpa syarat), pihak lain menuntut jaminan keamanan atau pengakuan tertentu. Di tengah itu, mediator pun kesulitan, karena setiap konsesi dapat dibaca sebagai kemenangan lawan.
Negosiasi sebagai permainan “waktu” dan “sinyal”
Diplomasi modern juga adalah permainan sinyal. Ketika AS menyatakan blokade “adil” bagi semua bendera, itu sinyal legalistik: seolah menekankan kepatuhan pada prosedur dan menghindari kesan diskriminasi. Namun, ketika disertai ultimatum dan ancaman infrastruktur, sinyalnya berubah menjadi koersif. Bagi Iran, sinyal ini bisa dibaca bahwa ruang kompromi sempit, sehingga lebih baik memperkuat posisi terlebih dahulu.
Waktu menjadi instrumen. Ultimatum 48 jam misalnya, menciptakan tekanan psikologis dan headline global. Tetapi negosiasi yang substantif jarang selesai dalam hitungan hari; ia membutuhkan verifikasi, rancangan mekanisme pemantauan, serta “exit ramp” yang membuat kedua pihak bisa mengklaim kemenangan domestik. Tanpa itu, negosiasi mudah “buntu” meskipun jalur komunikasi tetap ada.
Peran aktor ketiga dan peluang de-eskalasi yang realistis
Dalam banyak krisis, aktor ketiga—baik negara besar maupun organisasi regional—menjadi penyangga. Mereka menawarkan saluran pembicaraan, jaminan tertentu, atau paket ekonomi untuk memancing kompromi. Pembaca yang mengikuti perkembangan peran kekuatan besar lain dapat menelusuri ulasan peran China dalam meredakan ketegangan, yang sering menekankan pentingnya komunikasi paralel di luar kamera.
Namun peluang de-eskalasi paling realistis sering kali justru teknis: kesepakatan prosedur lintas selat, hotline militer-ke-militer, atau mekanisme inspeksi bersama yang transparan. Jika kedua pihak sulit sepakat pada isu besar, mereka bisa memulai dari hal kecil yang mengurangi risiko insiden. Apakah langkah teknis cukup? Ia mungkin tidak menyelesaikan Konflik inti, tetapi bisa menurunkan suhu sehingga ruang Diplomasi kembali terbuka. Insight akhirnya: diplomasi yang efektif sering bermula dari kesepakatan kecil yang mencegah salah perhitungan, bukan dari pernyataan besar yang memuaskan headline.
Dalam konteks pembicaraan yang berliku, sejumlah pengamat menyoroti kendala struktural dan politis yang menghambat dialog; salah satu rangkuman faktor-faktornya dapat dibaca pada analisis kendala pembicaraan Iran-AS, terutama terkait agenda, sanksi, dan tekanan publik.
Dampak Sosial-Politik dan Persepsi Publik: Narasi Media, Ekonomi Rumah Tangga, dan Arah Konflik Kawasan
Ketegangan AS–Iran tidak hanya bergerak di peta militer; ia hidup dalam narasi media dan percakapan publik. Saat Trump mengumumkan Blokade yang Strategis di Selat Hormuz, warga di berbagai negara merasakan efeknya melalui dua hal yang paling dekat: harga dan rasa aman. Kenaikan biaya energi berpotensi merembet ke tarif transportasi, harga bahan pokok, dan ongkos produksi. Pada saat yang sama, pemberitaan tentang ultimatum, ancaman serangan, atau insiden kapal memperkuat kecemasan kolektif, terutama di negara yang warganya bekerja di sektor maritim atau migas.
Di Indonesia, misalnya, diskusi publik sering membandingkan situasi ini dengan krisis energi masa lalu, ketika harga BBM dan tarif logistik memengaruhi banyak sektor. Bedanya, kini informasi beredar jauh lebih cepat. Potongan video kapal perang, peta pelayaran, hingga rumor penutupan total bisa viral sebelum ada klarifikasi. Dalam suasana seperti ini, literasi informasi menjadi bagian dari Keamanan non-militer: menahan diri dari kesimpulan cepat agar keputusan ekonomi rumah tangga tidak panik.
Bagaimana perusahaan dan pekerja merespons: dari ruang rapat hingga dek kapal
Di perusahaan, respons biasanya terbagi dua: manajemen risiko dan komunikasi. Manajemen risiko menyiapkan skenario biaya, rute alternatif, serta stok pengaman. Komunikasi memastikan pelanggan tidak terkejut dengan keterlambatan. Bagi pekerja—terutama awak kapal dan pekerja pelabuhan—isu ini jauh lebih personal. Mereka memikirkan protokol darurat, keselamatan keluarga, dan tekanan kerja di area berisiko.
Ambil contoh “Rafi”, seorang perwira dek (tokoh ilustratif) yang bertugas di kapal kargo lintas Teluk. Saat kabar inspeksi ketat meningkat, Rafi dan kru menjalankan latihan komunikasi radio, pengecekan alat keselamatan, dan simulasi boarding. Aktivitas ini mungkin terlihat rutin, tetapi dalam konteks Ketegangan tinggi, latihan menjadi sumber ketenangan: ada rencana, ada prosedur, ada koordinasi. Insight akhirnya: ketahanan psikologis di lapangan sering dibangun dari disiplin kecil yang dilakukan konsisten.
Narasi kawasan dan efek domino politik
Ketika dua negara besar berhadapan, aktor regional lain ikut menyesuaikan posisi: sebagian mendorong de-eskalasi demi stabilitas perdagangan, sebagian memanfaatkan momentum untuk memperkuat agenda sendiri. Narasi di media kawasan dapat memperkeras polarisasi, menambah tekanan pada pemimpin untuk “tidak mundur”. Karena itu, memahami konteks regional penting untuk membaca arah Konflik berikutnya.
Di tengah meningkatnya tensi, publik juga mengikuti dinamika di front lain yang terkait aliansi dan pergeseran kekuatan. Sebagian pembaca mengaitkan respons Iran dengan konstelasi yang lebih luas; misalnya ulasan tentang kebangkitan sikap Iran melawan Israel sering digunakan untuk menjelaskan mengapa simbolisme dan reputasi regional menjadi pertimbangan besar.
Yang paling menentukan ke depan adalah apakah jalur teknis dan politik bisa berjalan paralel: menurunkan risiko insiden di laut sambil membuka ruang Diplomasi. Jika tidak, tekanan ekonomi dan sosial akan terus menumpuk, dan itu biasanya mempersempit opsi kebijakan. Insight akhirnya: krisis di Selat Hormuz adalah ujian bukan hanya bagi strategi militer, tetapi juga bagi kemampuan negara dan masyarakat mengelola ketidakpastian tanpa terjebak pada spiral eskalasi.
Privasi, Data, dan Perang Informasi: Dari Cookie hingga Pengukuran Audiens di Tengah Ketegangan
Menariknya, saat dunia membahas Ketegangan AS–Iran dan Blokade di Selat Hormuz, ada lapisan lain yang memengaruhi cara publik memahami krisis: infrastruktur data. Banyak pembaca mengakses berita melalui platform yang menggunakan cookie dan pemrosesan data untuk berbagai tujuan, seperti menjaga layanan tetap berjalan, melacak gangguan, melindungi dari spam dan penipuan, serta mengukur keterlibatan audiens. Di masa krisis, fungsi-fungsi itu dapat membantu: misalnya memerangi banjir misinformasi dan upaya manipulasi.
Namun, pilihan pengguna terkait privasi ikut membentuk pengalaman informasi. Ketika seseorang memilih menerima semua opsi, platform dapat mengembangkan layanan baru, mengukur efektivitas iklan, serta menayangkan konten dan iklan yang dipersonalisasi berdasarkan setelan dan aktivitas sebelumnya. Sebaliknya, jika pengguna menolak, konten dan iklan cenderung tidak dipersonalisasi, dipengaruhi oleh apa yang sedang dilihat, aktivitas penelusuran saat ini, dan lokasi umum. Di permukaan, ini tampak seperti isu teknologi semata, tetapi dalam situasi Konflik dan propaganda, personalisasi bisa mengarahkan orang pada gelembung informasi tertentu.
Personalisasi vs non-personalisasi: implikasi praktis untuk pembaca berita krisis
Dengan personalisasi, pembaca yang sering mengonsumsi analisis geopolitik akan disuguhi lebih banyak konten serupa—baik dari media arus utama maupun kanal opini. Ini bisa memperkaya pemahaman, tetapi juga meningkatkan risiko bias konfirmasi: orang makin sering melihat sudut pandang yang sudah ia percayai. Pada mode non-personalisasi, pembaca mungkin mendapatkan konten yang lebih “umum”, tetapi tetap dipengaruhi lokasi dan konteks bacaan saat itu, sehingga tidak sepenuhnya netral.
Dalam krisis seperti blokade, detail kecil bisa menentukan persepsi: apakah “kapal non-Iran tetap boleh melintas”, apakah ultimatum benar-benar akan dieksekusi, atau apakah ada pembicaraan balik layar. Ketika algoritma menonjolkan konten yang paling memicu emosi, pembaca bisa terjebak pada berita yang paling keras, bukan yang paling akurat. Maka, literasi digital menjadi komponen Keamanan sipil.
Langkah praktis agar tetap rasional di tengah banjir informasi
Pembaca yang ingin menjaga ketenangan dapat menerapkan kebiasaan sederhana: membandingkan beberapa sumber, memeriksa pernyataan resmi versus opini, dan memahami konteks kebijakan. Mengelola setelan privasi juga penting, termasuk mengecek opsi lanjutan dan alat pengelolaan privasi yang disediakan platform. Jika pengalaman dibuat “sesuai usia” atau preferensi tertentu, itu bisa memengaruhi jenis konten yang muncul—penting untuk disadari agar pembaca tidak salah mengira bahwa linimasa pribadinya mewakili realitas keseluruhan.
Pada akhirnya, perang modern tidak hanya berlangsung di laut dan meja perundingan; ia juga berlangsung pada arsitektur informasi yang menentukan apa yang dilihat publik tentang Trump, Iran, dan kebijakan Strategis di Selat Hormuz. Insight akhirnya: mengelola data dan privasi bukan sekadar urusan kenyamanan digital, melainkan bagian dari ketahanan masyarakat menghadapi eskalasi dan propaganda.